SULBARKINI.COM, MAMASA – Narasi kepahlawanan sejati kembali terukir, bukan di medan tempur, melainkan di lembah Botteng, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Sosok sentral dalam episode inspiratif ini adalah Bripka Muh Nur Alam, seorang Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dari Polsek Mambi, yang kini menjadi simbol episentrum asa bagi generasi muda setempat.
Aksi nan tulus Bripka Nur Alam, yang terekam kamera tengah menggendong seorang murid menyebrangi sungai dan yang viral di jagat maya, menampilkan esensi pengorbanan di tengah keterbatasan.
Ini dilakukan Alam akibat lumpuhnya akses vital pendidikan di SDN 006 Botteng itu. Jembatan gantung yang seyogianya menjadi urat nadi penghubung menuju SDN 006 Botteng, kini hanyalah reruntuhan usang yang telah terabaikan selama tiga tahun.
Kerangka besi yang dililit karat, papan yang terkikis lapuk, serta tali penyangga yang rapuh tak berdaya, seolah menjadi monumen bisu atas mandeknya perhatian pembangunan.
“Ini adalah anomali yang menyakitkan. Tunas-tunas bangsa ini harus bertarung dengan maut setiap hari hanya demi sebait ilmu,” ujar Bripka Muh Nur Alam dengan nada keprihatinan mendalam.
Ia menambahkan, kondisi ini acap kali memaksa proses belajar mengajar terhenti prematur saat hujan memicu peningkatan debit air.
Dedikasi tak bertepi sang Bhabinkamtibmas ini sontak memicu resonansi emosional publik, menjadikannya tamparan keras bagi hierarki pemerintahan daerah dan institusi terkait.
Warga Botteng kini menggantungkan secercah harapan pada pundak aparat ini, menanti intervensi substantif untuk meretas belenggu keterisolasian yang telah menjerat masa depan anak-anak mereka selama bertahun-tahun.
Aksi ini bukan sekadar berita ia adalah refleksi telanjang kondisi pendidikan di pelosok negeri, sebuah ultimatum moral bagi pemangku kebijakan untuk segera menunaikan mandat konstitusional demi keselamatan dan hak belajar anak bangsa. (Hamsah “Ancha)








