Mamuju, SulbarKini.com – Nasib pilu kembali dialami warga di pedalaman Mamuju, Sulawesi Barat. Seorang warga Desa Kopeang, Kecamatan Tapalang, terpaksa ditandu sejauh 21 kilometer menuju puskesmas akibat akses jalan yang rusak parah dan terisolasi.
Sebuah video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan perjuangan warga saat menandu Naharuddin (50) melewati jalan berlumpur, licin, serta sungai berarus deras. Perjalanan panjang itu ditempuh dengan berjalan kaki selama delapan jam, sejak pukul 07.00 WITA hingga tiba di puskesmas sekitar pukul 15.00 WITA.
Menurut warga, Naharuddin mengalami pendarahan hebat pada bekas luka operasi dan membutuhkan pertolongan medis segera. Namun, kondisi jalan di desa mereka tidak memungkinkan ambulans atau kendaraan untuk melintas hingga ke pemukiman.
“Kalau hujan deras, jalan makin parah dan kadang tertutup air sungai. Kami hanya bisa tandu kalau ada yang sakit,” ungkap Ruspanna, warga Desa Kopeang, yang dikonfirmasi, Kamis (6/11/2025).
Kondisi Desa Kopeang yang sudah lama terisolir membuat akses layanan kesehatan menjadi tantangan besar bagi warga. Jalur menuju desa ini nyaris tak bisa dilewati kendaraan karena rusak berat dan sering terputus oleh aliran sungai.
Selama bertahun-tahun, warga mengaku belum pernah merasakan perhatian serius dari pemerintah daerah, meski kondisi jalan yang rusak parah telah lama menghambat aktivitas dan keselamatan warga.
Setiap musim hujan, warga hanya bisa mengandalkan gotong royong untuk membawa pasien atau ibu hamil menuju fasilitas kesehatan terdekat. Situasi ini kerap memakan waktu berjam-jam dan berisiko tinggi bagi keselamatan pasien.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki akses jalan menuju desa mereka. Menurut warga, perhatian terhadap infrastruktur dasar seperti jalan dan fasilitas kesehatan merupakan kebutuhan mendesak yang tak bisa lagi ditunda.
Peristiwa ini menjadi potret nyata keterisolasian desa-desa di pedalaman Mamuju, yang hingga kini masih berjuang mendapatkan akses dasar dan layanan kesehatan yang layak, meski telah puluhan tahun menjadi bagian dari wilayah Sulawesi Barat. (FR)








