SULBARKINI.com – General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Moch. Andy Adchaminoerdin, angkat suara terkait pemadaman listrik hingga 6 jam yang terjadi di sejumlah wilayah di tiga provinsi tersebut.
Andy melalui keterangan tertulisnya menyebutkan, salah satu penyebab pemadaman listrik dikarenakan cuaca ekstrem yang membuat debit air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkurang.
Padahal, kata dia, 33 persen pasokan listrik Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) berasal dari PLTA.
Menurut Andy, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dimaksimalkan produksinya secara terus menerus juga perlu menjalani pemeliharaan sehingga PLN terpaksa harus melakukan manajemen beban.
“PLN terus melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Seperti melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di daerah tangkapan air di sekitar lokasi PLTA,” kata dia.
Andy menjelaskan, penambahan pembangkit dan mengoptimalkan sistem interkoneksi sistem kelistrikan Sulbagsel yang terhubung mulai dari Sulawesi Selatan daratan, Sulawesi Barat, Palu (Sulawesi Tengah) dan Sulawesi Tenggara daratan sehingga bisa saling menopang.
“Kami upayakan juga dengan penambahan pembangkit yang saat ini sudah masuk 30 MW. Kemudian akan masuk lagi tambahan 50 MW pada akhir Desember 2023,” sebut dia.
Andy memohon maaf terkait manajemen beban yang dilakukan. Dia berharap masyarakat bersedia bahu membahu dengan menurunkan penggunaan pemakaian listrik sehari-hari sambil menunggu pemulihan sistem kelistrikan.
“Untuk mengurangi dampak dan durasi padam, mohon dukungan masyarakat untuk sementara waktu ini agar bersama-sama mengurangi pemakaian listriknya sekitar 30 persen selama masa pemulihan pembangkit,” pungkas Andy. []








