Ragam  

Masjid-masjid dengan Arsitektur Unik di Sulbar: Mirip Kakbah hingga Masjid tvOne

Masjid Nurul Azizil Hakim, masjid berbentuk Ka'bah di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Foto: Dok. Istimewa
WA Channel

SULBARKINI.com – Sulawesi Barat memiliki sejumlah masjid yang berbentuk unik dan menarik.

Ada yang menyerupai kakbah, masjid dengan cat berwarna-warni hingga terbaru masjid dengan arsitektur Tionghoa di Desa Randomayang, Kecamatan Bambalamotu, Sulawesi Barat (Sulbar).

1. Masjid Nurul Azizil Hakim di Majene

Masjid Nurul Azizil Hakim juga dilengkapi dengan replika batu Hajar Aswad. Foto: Dok. Istimewa

Masjid Nurul Azizil yang bentuknya menyerupai kakbah di Makkah berlokasi di Kelurahan Rangas Timur, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene.

Masjid ini dibangun mulai November 2020 dan diresmikan oleh Bupati Majene Andi Achmad Syukri pada Minggu (22/8/2021).

Dibangun identik dengan Kakbah, dinding masjid ini bercat warna hitam dilengkapi kaligrafi yang menyerupai kiswah, serta replika batu Hajar Aswad di salah satu sisinya.

“Ini seperti upaya kami, visi misi kami untuk menciptakan Majene religius,” kata Andi Syukri saat peresmian.

2. Masjid Terapung di Pasangkayu

Masjid Nafsul Kifaah atau lebih dikenal dengan nama Masjid Terapung di Pasangkayu, Sulawesi Barat. Foto: Dok. Istimewa

Pasangkayu memiliki sejumlah destinasi wisata yang menarik, salah satunya Masjid Nafsul Kifaah. Masjid berkapasitas 100 orang ini juga lebih dikenal dengan nama masjid terapung Pasangkayu karena letaknya berada di pinggir pantai, tepatnya di Anjungan Vovasanggayu.

Kehadiran masjid yang diresmikan pada Desember 2019 tersebut sekaligus melengkapi fasilitas ibadah di kawasan Anjungan Vovasanggayu yang menjadi kawasan ruang publik dan bersantai warga Pasangkayu.

Selain masyhur dengan sebutan masjid terapung, masjid berbentuk kubah dengan sebuah menara ini juga kerap disebut sebagai masjid pelangi karena dicat dengan warna-warni yang menarik.

Kehadiran masjid ini sendiri merupakan salah satu mimpi mantan Bupati Pasangkayu, Agus Ambo Djiwa. Menurutnya, sebelum masjid tersebut dibangun, ia sempat mengutarakan niatnya itu kepada mantan Kapolda Sulbar, Irjen Pol Baharuddin Djafar, untuk membangun masjid di area pantai.

Dikatakan, pembangunan masjid terapung itu bagian dari pembangunan kota sekaligus menambah daya tarik Kota Pasangkayu. Warga yang berekreasi dan bersantai di kawasan Pantai Pasangkayu pun akan lebih mudah melaksanakan salat.

“Jadi kalau masuk waktu salat, warga yang lagi bersantai maupun berolahraga di sekitar pantai tidak perlu lagi jauh-jauh untuk beribadah. Mereka bisa beribadah di masjid terapung,” ujarnya.

3. Masjid Al-Faruq di Mamasa

Masjid Al-Faruq di Mamasa, Sulawesi Barat, dengan bentuk atap menyerupai rumah adat Mamasa. Foto: Dok. Frendy

Pembangunan Masjid Al-Faruq sudah dimulai sejak tahun 2016 dengan luas bangunan 10×13 meter dan berlantai dua. Masjid ini berdiri di tengah-tengan permukiman warga yang mayoritas umat Kristiani.

Ketua pembangunan Masjid Al-Faruq, Ansar, mengatakan masjid itu dibangun dengan menggunakan dana dari sumbangan donatur serta sumbangan umat Muslim yang ada di Mamasa.

Dia menambahkan, pihaknya sengaja memilih memadukan dengan desain rumah adat Mamasa karena muslim di Mamasa tidak bertentangan dengan adat.

“Desain menyerupai rumah adat untuk bagian atap, sedangkan dindingnya didesain modern dengan bangunan beton,” kata Ansar, Kamis (19/11/2020).

4. Masjid Cheng Ho di Randomayang, Kabupaten Pasangkayu

Masjid Cheng Ho di Desa Randomayang, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu.

Masjid Muhammad Cheng Ho yang berlokasi di Dusun Salunggaluku, Desa Randomayang, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, diresmikan pada Rabu (17/1/2024).

Peresmian itu ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh Pj Gubernur Sulbar Zudan Arif Fakrulloh dan Bupati Pasangkayu Yaumil Ambo Djiwa di pelataran Masjid Cheng Ho.

Diketahui, pembangunan Masjid Cheng Ho digagas oleh Direktur PT Randomayang Tambak Lestari, Rudy Hartono Wibowo. Dibangun menyerupai bangunan wihara atau klenteng seperti halnya masjid-masjid Cheng Ho lainnya di berbagai daerah di Indonesia.

Nama Cheng Ho sebagai penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho yang merupakan seorang laksamana muslim yang memimpin pelayaran armada asal China dan pernah mendarat di Nusantara pada masa lampau.

Dalam sambutannya, Bupati Pasangkayu Yaumil Ambo Djiwa menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga masjid dengan arstitektur yang unik itu bisa hadir di Kabupaten Pasangkayu dan kelak menjadi destinasi wisata religi di daerah tersebut.

“Semoga keberadaan tempat ibadah ini dapat memperkuat tali silaturahmi dan mempererat hubungan antarumat serta sejalan dengam visi misi pemerintah daerah, yaitu Pasangkayu yang agamis dan bermartabat,” ujar Yaumil.

Pada kesempatan yang sama, Pj Gubernur Sulbar Zudan Arif Fakrulloh menyampaikan sejumlah pesan dan harapan dengan kehadiran Masjid Ceng Ho di Kabupaten Pasangkayu.

“Alhamdulillah, masjid ini akan menjadi episentrum bagaimana kita membangun cinta kasih dengan saling menghormati dan saling memuliakan,” kata Zudan saat memberikan sambutan.

5. Masjid Nurul Taufiq di Malunda, Kabupaten Majene

Masjid Nurul Taufiq di Desa Lombong, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Foto: Dok. Istimewa

Masjid Nurul Taufiq yang berada di Desa Lombong, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, diresmikan pada Kamis (23/6/2022). Masjid ini sebelumnya rusak imbas gempa 6,2 magnitudo pada 15 Januari 2021 lalu.

Pembangunan masjid ini dianggarkan dari sumbangan pemirsa tvOne melalui Yayasan Satu Untuk Negeri dan mulai dibangun pada 30 Juni 2021 dengan luas bangunan 224 meter persegi.

“Banyak warga yang sedang dalam perjalanan jauh singgah beristirahat dan berswafoto di tempat ini, karena bangunan masjid ini lain dari pada yang lain,” kata Ketua Dewan Kesejahteraan Masjid, Basaruddin.

- GNFI Network -