Mereka berjaga saat warga terlelap. Berhari-hari memadamkan api, para personel Damkar Mamuju harus menukar waktu bersama keluarga dengan tugas di tengah kepulan asap dan kobaran api.
SulbarKini.com – Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat untuk melepas lelah setelah seharian bekerja. Ada waktu untuk duduk bersama keluarga, menyantap makan malam, atau sekadar berbincang sebelum hari berganti.
Namun, rutinitas itu kini menjadi sesuatu yang jarang dirasakan oleh sejumlah personel Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Sejak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat dalam beberapa bulan terakhir, sebagian dari mereka lebih banyak menghabiskan waktu di posko, menunggu suara panggilan darurat yang bisa datang kapan saja.
Pakaian kerja yang biasanya dilepas saat pulang, kini tetap melekat lebih lama. Sepatu tugas yang seharusnya hanya digunakan ketika bertugas, menjadi teman perjalanan mereka menuju berbagai titik kebakaran.
Api yang muncul di sejumlah wilayah Mamuju siang maupun malam adalah alaram panggilan untuk turun ke lokasi kebakaran.
“Biasanya selesai kerja kami pulang ke rumah, bertemu keluarga. Tapi kondisi sekarang berbeda. Personel harus tetap siaga di posko karena sewaktu-waktu ada laporan kebakaran yang harus segera ditangani,” ujar Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Mamuju, Randy Noertadi, Rabu (9/9/2026).
Menurut Randy, meningkatnya kejadian karhutla membuat pola kerja personel berubah drastis. Mereka tidak hanya berjaga di posko, tetapi juga harus bergerak cepat menuju lokasi yang terkadang berada jauh di wilayah perbukitan atau kawasan sulit dijangkau.
Dalam beberapa pekan terakhir, para petugas hampir setiap hari keluar masuk lokasi kebakaran. Mereka harus menapaki medan terjal, naik turun gunung, dan berjibaku dengan panas api agar kebakaran tidak meluas hingga mendekati permukiman warga.
“Yang kami pikirkan bagaimana api bisa segera dikendalikan. Kalau terlambat, dampaknya bisa lebih besar, apalagi kalau sudah mendekati rumah warga,” kata Randy.
Di balik seragam dan perlengkapan pemadam yang mereka kenakan, ada cerita tentang rasa lelah yang jarang terlihat. Tidak semua personel bisa kembali ke posko setelah menyelesaikan tugas. Saat kondisi mendesak, mereka harus kembali dipanggil untuk membantu tim lain yang masih berjibaku memadamkan api.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, tempat istirahat mereka bukan lagi kamar dengan kasur yang nyaman. Semak belukar, pinggir jalan, hingga area sekitar lokasi kebakaran menjadi tempat mereka memejamkan mata sejenak.
“Kadang ada anggota yang sudah terlalu lelah, akhirnya tidur seadanya di lokasi. Yang penting tenaga bisa kembali untuk melanjutkan pemadaman,” ujar Randy.
Bagi keluarga di rumah, kabar dari mereka menjadi sesuatu yang ditunggu. Tidak jarang waktu berkumpul yang sebelumnya menjadi rutinitas harus tergantikan dengan pesan singkat atau telepon singkat di sela tugas.
Namun, para personel Damkar memahami bahwa pekerjaan mereka bukan sekadar memadamkan api. Ada rumah warga yang harus diselamatkan, ada hutan yang harus dilindungi, dan ada keselamatan masyarakat yang menjadi tanggung jawab mereka.








