SulbarKini.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamasa mencatat 24 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang periode Januari hingga 1 September 2026.
Dari 24 kejadian tersebut, total luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 61,95 hektare. Seluruh kejadian yang tercatat dalam rekap BPBD Mamasa disebut telah ditangani.
“Dalam Rekapan Kejadian Karhutla Januari–September 2026 yang dikeluarkan BPBD Kabupaten Mamasa. Rekapitulasi tersebut menunjukkan kebakaran tersebar di enam kecamatan, yakni Mamasa, Tawalian, Sumarorong, Mehalaan, Tandukkalua, dan Balla,” ungkap Alfredo Toding, Kepala BPBD Mamasa, saat dimintai data Rabu, (24/9/ 2026).
Berdasarkan rekap BPBD, Kecamatan Mamasa menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 12 kejadian dengan luas lahan terbakar sekitar 29,425 hektare.

Selanjutnya Kecamatan Balla mencatat empat kejadian dengan luas sekitar 8,005 hektare. Kecamatan Tawalian dan Sumarorong masing-masing mencatat tiga kejadian, dengan luas terdampak masing-masing sekitar 4,50 hektare dan 5,005 hektare.
Sementara itu, Kecamatan Mehalaan mencatat satu kejadian dengan luas sekitar 8,92 hektare, sedangkan Kecamatan Tandukkalua juga satu kejadian dengan luas sekitar 5 hektare.
Dengan demikian, Kecamatan Mamasa menjadi wilayah dengan frekuensi kejadian tertinggi, sedangkan luas terbesar dalam satu kejadian tercatat di wilayah Mamasa dan Mehalaan.
Kebakaran terjadi sejak Februari Kejadian karhutla dalam rekap BPBD mulai tercatat pada 6 Februari 2026 di Tawalian. Kebakaran tersebut diperkirakan berdampak pada lahan seluas 1,5 hektare.
Kejadian berikutnya tercatat pada 12 April 2026 di Dusun Salukadoka Desa Osango, dekat rumah Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mamasa, dengan luas sekitar 1 hektare. Pada 17 April, kebakaran kembali terjadi di Limbong Lopi, Kecamatan Tawalian, dengan luas sekitar 1 hektare.
Selanjutnya, pada 25 Mei, kebakaran terjadi di Desa Tawalian Timur dengan luas sekitar 2 hektare. Memasuki Juni, BPBD mencatat kebakaran di Desa Taupe, Kecamatan Mamasa, pada 20 Juni dengan luas sekitar 1,5 hektare.
Aktivitas kebakaran kemudian kembali muncul pada Juli hingga September. Pada 7 Agustus, kebakaran terjadi di Desa Sibanawa, Kecamatan Sumarorong, dengan luas sekitar 3 hektare.
Pada 13 Agustus, kebakaran terjadi di Kelurahan Tabone, Kecamatan Sumarorong, seluas sekitar 2 hektare. Sehari berselang, 15 Agustus, kebakaran tercatat di Lingkungan Mamasa Kota, Kelurahan Mamasa, tepat di depan Kodim Mamasa, dengan luas sekitar 2 hektare.
Ada kejadian yang membakar lahan hingga 10 hektare. Salah satu kejadian dengan luas terdampak terbesar tercatat pada 19 Agustus 2026 di Dusun Rantemadeda, Desa Lambanan, Kecamatan Mamasa.
Dalam rekap BPBD, kebakaran di lokasi tersebut diperkirakan melanda sekitar 10 hektare lahan.
Kebakaran kembali terjadi pada 25 Agustus di sejumlah lokasi. Di antaranya Dusun Loko, Desa Mambuliling, Kecamatan Mamasa, dengan luas sekitar 1 hektare, Dusun Mesakada, Desa Mesakada, Kecamatan Mehalaan, sekitar 8,92 hektare serta Dusun Salukadoka, Desa Osango, Kecamatan Mamasa, dengan luas sekitar 0,5 hektare.
Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di Dusun Rante Tambolang, Desa Balabatu, Kecamatan Tandukkalua, dengan luas sekitar 5 hektare.
Kebakaran berlanjut pada akhir AgustusPada 26 Agustus, BPBD mencatat tiga kejadian. Masing-masing berada di Dusun Kanan Riang, Desa Rambu Saratu, Kecamatan Mamasa, dengan luas sekitar 0,5 hektare; Dusun Salukadoka, Desa Osango, Kecamatan Mamasa, sekitar 0,5 hektare, serta Dusun Salunata, Desa Sepakuan, Kecamatan Balla, sekitar 0,5 hektare.
Sehari kemudian, 27 Agustus, dua kejadian kembali dilaporkan. Pertama di Dusun Ranteliang, Desa Satanean, Kecamatan Balla, dengan luas sekitar 5 hektare. Kedua di Dusun Ambabang dan Pena, Desa Sepakuan, Kecamatan Balla, dengan luas sekitar 3 hektare.
Pada hari yang sama, kebakaran juga tercatat di Dusun Rantepongko, Desa Tondok Bakaru, Kecamatan Mamasa, dengan luas sekitar 0,5 hektare.
Kemudian pada 29 Agustus, kebakaran terjadi di Dusun Pangkali, Desa Rambu Saratu, Kecamatan Mamasa, dengan luas sekitar 5 hektare.
Kejadian berikutnya tercatat pada 31 Agustus di Dusun Pamumbunan, Desa Bubun Batu, Kecamatan Mamasa. Luas lahan yang terdampak diperkirakan sekitar 3 hektare.
Tiga kejadian tercatat pada 1 September Pada 1 September 2026, BPBD Mamasa kembali mencatat tiga kejadian karhutla. Kebakaran pertama terjadi di Dusun Salubassi, Desa Salubalo, Kecamatan Sumarorong, dengan luas sekitar 0,005 hektare.
Kejadian kedua berada di Dusun Ampili, Desa Balla Timur, Kecamatan Balla, dengan luas sekitar 5 hektare. Sementara kejadian ketiga terjadi di Dusun Lombok, Desa Lembangna Salulo, Kecamatan Mamasa, dengan luas sekitar 2 hektare.
Ketiga kejadian tersebut menambah jumlah keseluruhan karhutla menjadi 24 kejadian dengan akumulasi luas terdampak mencapai 61,95 hektare.
Data tersebut memperlihatkan bahwa setengah dari seluruh kejadian karhutla di Mamasa terjadi di Kecamatan Mamasa, yakni 12 dari 24 kejadian.
Namun, dari sisi luas, terdapat pula beberapa kejadian yang berdampak cukup besar, di antaranya sekitar 10 hektare di Dusun Rantemadeda, Desa Lambanan, serta sekitar 8,92 hektare di Dusun Mesakada, Kecamatan Mehalaan.
Dalam rekapitulasi tersebut, BPBD Kabupaten Mamasa menyatakan seluruh 24 kejadian karhutla telah ditangani. Dengan kondisi ini Digingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, terutama di tengah potensi meluasnya kebakaran yang dapat mengancam lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Selain menyebabkan kerusakan lingkungan, kebakaran hutan dan lahan juga dapat mengganggu kesehatan serta menimbulkan kerugian bagi masyarakat.








