Mamasa, SULBARKINI.COM – Di sebuah rumah sederhana di Desa Rantepuang, Kecamatan Sesena Padang, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, tangan terampil seorang gadis muda tampak sibuk menenun benang warna-warni di atas alat tenun kayu tradisional.
Dialah Novrianti, gadis berusia 23 tahun yang kini dikenal sebagai pengusaha muda tenun Sambu’ Mamasa. Siapa sangka, hobi Novri memadukan warna yang dulu hanya ia lakukan untuk kesenangan pribadi, kini berbuah menjadi ladang usaha yang menguntungkan.
Setiap bulannya, ia mampu meraup penghasilan antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta dari hasil penjualan kain Sambu’, sarung tenun khas Mamasa yang menjadi kebanggaan daerah di dataran tinggi Sulawesi Barat itu.
“Awalnya cuma suka main warna. Terus saya pikir, kenapa tidak dituangkan di tenunan Mamasa biar kelihatan lebih menarik,” cerita Novri sambil tersenyum, di sela aktivitasnya menenun benang berwarna merah dan emas.
Usaha tenun Sambu’ mulai ditekuninya sejak Desember 2024. Selain memasarkan produk, Novri juga turun langsung dalam setiap proses pembuatan. Ia tak ingin kualitas warisan budaya Mamasa itu menurun hanya karena tergoda permintaan pasar yang tinggi.
“Setiap motif itu punya makna. Jadi, saya tetap pertahankan cara tradisionalnya,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitas dan memenuhi permintaan yang semakin banyak, Novri dibantu oleh ibunya, Mariana, serta beberapa ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Mereka bekerja bersama dalam suasana kekeluargaan, di tengah denting alat tenun yang berpadu dengan tawa ringan para penenun.
Tak hanya piawai menenun, Novri juga memanfaatkan media sosial sebagai etalase digital produknya. Ia rutin membagikan proses pembuatan kain Sambu’ di akun pribadinya, mulai dari merangkai benang, memilih warna, hingga hasil akhir yang siap dijual.
“Banyak pembeli justru tertarik karena lihat prosesnya di media sosial. Bahkan ada yang minta supaya proses penenunan sarung pesanannya direkam,” katanya.
Strategi ini terbukti efektif. Kini, pesanan Sambu’ Mamasa datang dari berbagai daerah, mulai dari Toraja, Kendari, Palu, Kalimantan, hingga Jakarta dan Papua.
Harga satu lembar kain Sambu’ bervariasi antara Rp600 ribu hingga Rp850 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya. Namun bagi Novri, keuntungan materi bukan satu-satunya tujuan. Ia ingin usahanya menjadi jalan untuk melestarikan budaya leluhur sekaligus membuka lapangan kerja bagi perempuan di desanya.
“Saya senang karena bisa bantu ibu-ibu di sini punya penghasilan juga. Tapi yang paling penting, Sambu’ tetap hidup dan dikenal orang,” ucapnya dengan mata berbinar.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Novrianti membuktikan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk maju. Dengan kreativitas dan semangat melestarikan tradisi, budaya. (frd)








