JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) merancang skema pemisahan jalur pelayaran atau Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Makassar.
Hal itu demi meningkatkan keselamatan navigasi sekaligus menopang pengembangan pelabuhan hub di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Perekayasa Ahli Muda PRTH BRIN, Ibnu Fauzi menyebutkan, riset tersebut dilatarbelakangi meningkatnya kepadatan lalu lintas kapal di Selat Makassar yang merupakan salah satu jalur pelayaran strategis nasional dan internasional.
Menurut dia, tanpa pengaturan yang sistematis, potensi risiko kecelakaan di kawasan ini dinilai semakin tinggi, terutama seiring dengan pembangunan IKN dan proyeksi aktivitas logistik di masa depan.
Fauzi menjelaskan, desain TSS yang dikembangkan mengadopsi pendekatan komprehensif dengan mengintegrasikan analisis lalu lintas kapal, kajian risiko kecelakaan, serta data hidro-oseanografi seperti arus, gelombang, dan angin.
“Pengaturan jalur pelayaran yang terstruktur menjadi kunci untuk meminimalkan risiko tabrakan dan meningkatkan keselamatan navigasi,” ungkap dia dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (24/9).
Hasil penelitian tim BRIN yang terdiri dari Ibnu Fauzi, Danang Ariyanto, Cahyarsi Murtiaji, Catur Indra Sukmana, dan Eny Cholishoh, menunjukkan skema TSS yang ideal terdiri dari dua jalur terpisah untuk kapal dengan arah berlawanan, masing-masing selebar sekitar tiga kilometer.
Desain ini juga mempertimbangkan berbagai hambatan navigasi seperti pipa bawah laut, anjungan lepas pantai, hingga keberadaan terumbu karang.
Dari sisi kondisi perairan, menurut Fauzi, hasil analisis menunjukkan bahwa Selat Makassar relatif aman untuk pelayaran. Kecepatan angin tercatat di bawah 15 knot dengan tinggi gelombang maksimum sekitar 1,25 meter masih dalam batas standar keselamatan pelayaran internasional.
Evaluasi statistik juga memperkuat bahwa lebar jalur tiga kilometer efektif dalam menekan potensi kecelakaan kapal. Rancangan TSS ini menjadi fondasi penting dalam mendukung pengembangan pelabuhan hub IKN sebagai simpul logistik nasional dan internasional.
Dengan sistem lalu lintas kapal yang lebih tertata, diharapkan efisiensi distribusi meningkat sekaligus menjaga keselamatan dan keberlanjutan lingkungan laut.
Meski demikian, Ibnu menegaskan, penelitian ini masih bersifat awal karena menggunakan data sekunder. Ke depan, diperlukan integrasi data real-time seperti Automatic Identification System (AIS) serta survei hidrografi beresolusi tinggi untuk menyempurnakan desain jalur pelayaran.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Archives of Transport (DOI: 10.61089/aot2025.fwrh7755) ini menegaskan komitmen BRIN dalam menyediakan dasar ilmiah bagi kebijakan strategis nasional. (red)








