UMKM Berdaya, Transaksi Makin Mudah dan Aman dengan BRImo dan QRIS

Festival UMKM yang dilaksanakan di Lapangan Merdeka, Sengkang, Kabupaten Wajo, Sabtu (29/11/2025). Foto: Sapriadi

Digitalisasi layanan perbankan makin memudahkan transaksi keuangan dengan aman, praktis, dan cepat. BRI melalui program UMKM Go Digital dengan aplikasi BRImo dan QRIS turut berkontribusi dalam tumbuh kembang UMKM hingga di daerah.

WA Channel

WAJO – Suara “tratak-tratak” khas kayu yang beradu terdengar berirama saat penulis memasuki kawasan Sentra Pertenunan Sempange di Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis (27/11/2025) siang.

Berjarak enam kilometer dari pusat kota Sengkang, ibu kota Kabupaten Wajo, Desa Pakkanna sejak puluhan tahun lalu sudah dikenal sebagai sentra industri tenun sutra khas Wajo atau dalam bahasa Bugis dikenal dengan nama lipa sabbe Sengkang.

Di desa berpenduduk 2.883 jiwa ini (data Pemdes Pakkanna, Oktober 2025), aktivitas menenun secara tradisional dilakukan ibu-ibu rumah tangga yang telah diwariskan turun-temurun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Warga setempat menyebutnya Tennung Bola-bola, yang artinya menenun dengan alat menyerupai rumah-rumahan. Kata “Bola-bola” juga merujuk pada aktivitas menenun yang dilakukan di kolong rumah panggung milik warga.

Megawati (54 tahun), salah seorang perajin kain tenun sutra di Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Foto: Sapriadi

Data Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan UMKM Kabupaten Wajo, mencatat sebanyak 125 warga berprofesi sebagai perajin kain sutra di desa ini. Salah satunya, Megawati (54 tahun). Di sela-sela aktivitas harian mengurus rumah tangga serta pekerjaan domestik lainnya, Megawati menyisihkan waktunya menyelesaikan tenunan yang sudah diorder sedari awal oleh pemilik toko atau galeri kain sutra di desa tersebut.

“Sehari bisa selesai 2 meter, bisa juga lebih kalau sedang tidak banyak kegiatan di luar rumah. Kami di sini ibaratnya digaji, tinggal menenun saja. Bahan baku dan motif, itu toko yang tentukan (tergantung pesanan),” kata dia.

Dari tempat menenun Megawati, penulis lalu menyambangi salah satu toko atau galeri yang menjual beragam produk kain sutra yang masih berada di kawasan perkampungan sutra Desa Pakkanna. Ikbal, salah seorang pemilik galeri kain sutra mengatakan, usahanya tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dijalankan sejak masa kakek buyutnya, dan kini dilanjutkan oleh generasi penerus.

“Usaha ini sudah dirintis sejak 1950-an oleh kakek buyut kami. Sekarang, kami teruskan dan bekerja sama dengan para penenun di sini,” kata Ikbal.

Diakuinya, perkembangan media sosial sangat membantu dirinya dalam memasarkan produk kain sutra. Dulunya, pembeli hasil kerajinan tenun kain sutra didominasi oleh mereka yang datang berwisata di desa tersebut. Tetapi kini, Ikbal terbiasa menerima pesanan dari berbagai daerah di Indonesia dengan memanfaatkan platform media sosial sebagai sarana pemasaran digital.

Untuk transaksi keuangan, Ikbal mengaku terbantu dengan adanya digitalisasi layanan perbankan. Dia mengenang, ketika dirinya terkadang harus bolak-balik ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sekadar untuk bertransaksi. Menurut Ikbal, kehadiran aplikasi perbankan seperti BRImo makin memudahkan transaksi keuangan dengan cepat, praktis, dan aman.

“Transaksi dengan pembeli melalui pesanan online kini lebih cepat dengan menggunakan aplikasi BRImo. Kalau dulu, kadang repot-repot ke ATM untuk mengirim, atau sekadar memastikan transferan dari pembeli sudah masuk. Sekarang, cukup di rumah, transaksi bisa dilakukan,” ujar dia.

Kain tenun sutra Sengkang dengan berbagai motif. Banyak dipesan secara online hingga ke berbagai daerah, bahkan ke luar negeri. Foto: Sapriadi

Hal sama, diakui Wahyuni, karyawan toko sutra lainnya di Sentra Pertenunan Sempange, Desa Pakkanna. Menurut Wahyuni, toko tempatnya bekerja kerap menerima pesanan pembeli kain sutra dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Tangerang, Nunukan (Kalimantan Utara), Maluku, Manado, hingga Papua.

“Pernah juga kirim ke Malaysia. Bukan hanya kain sutra, pembeli juga pesan jas tutup dan baju Bodo (baju adat khas Bugis untuk perempuan). Transaksi dengan pembeli kini lebih cepat dengan menggunakan aplikasi BRImo,” ucap Wahyuni.

QRIS, Memberi Kemudahan Transaksi Nontunai

Tak semata bertransaksi dengan aplikasi BRImo, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) juga sudah umum ditemukan di gerobak-gerobak UMKM di pinggir jalan atau taman kota, di warung-warung makan, hingga warung kopi di Kabupaten Wajo. Ini menandakan, sebagian besar warga dan pelaku UMKM sudah melek digital dalam melakukan transaksi nontunai dengan menggunakan kode QRIS.

Seperti yang diungkapkan Irwan, salah seorang pengusaha warung kopi di Kota Sengkang. Di warung kopi miliknya, pelanggan bisa melakukan transaksi secara nontunai menggunakan kode QRIS yang dipajang di meja kasir.

“Dengan QRIS, sekarang lebih mudah bertransaksi dengan nontunai. Lebih aman dan praktis, apalagi terkadang ada pelanggan yang tidak membawa uang tunai,” kata Irwan, alias Ato.

Transaksi dengan menggunakan kode QRIS di salah satu warung kopi di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo. Foto: Sapriadi

Kebiasaan bertransaksi nontunai dan gaya hidup cashless diakui Andi Chandra, salah seorang remaja gen Z di Kota Sengkang. Dia mengaku, dirinya kini jarang membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Uang tunai di dompetnya hanya disiapkan untuk keperluan membeli BBM.

“Paling Rp 50.000 hingga Rp 100.000 (uang tunai di dompet), itu pun uang pembeli bensin karena beberapa penjual BBM eceran belum memiliki QRIS,” kata Andi Chandra.

“Selebihnya, saya lebih banyak melakukan transaksi digital, apalagi QRIS sudah banyak digunakan pelaku UMKM di Kabupaten Wajo dan penjual-penjual lainnya,” sambung dia.

Andi Chandra menambahkan, transaksi nontunai juga dianggap lebih aman mengingat uang palsu yang rentan beredar di masyarakat. Dia mengingat, akhir 2024 yang bertepatan dengan momen Pilkada, warga Sulawesi Selatan dihebohkan dengan aktivitas produksi uang palsu di salah satu kampus di Kota Makassar.

“Jadi, lebih aman dengan menggunakan QRIS. Meski demikian, kita juga harus tetap cermat saat melakukan transaksi dengan memeriksa nama outlet apakah sudah sesuai sebelum melakukan pembayaran,” ujar Chandra.

Dorong Digitalisasi UMKM dan Hadirkan Pelayanan Prima

Sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, BRI Cabang Sengkang berkomitmen terus memperkuat transformasi digital, khususnya dalam edukasi penggunaan BRImo dan QRIS bagi pelaku UMKM dan masyarakat umum.

Hal ini diungkapkan Pimpinan Cabang BRI Sengkang, Asryani Abdullah, saat dikonfirmasi, Jumat (28/11/2025). Menurut dia, BRI Cabang Sengkang mengambil peran aktif dalam mendorong adaptasi digital di sektor UMKM di Kabupaten Wajo melalui pendekatan jemput bola.

“Para Mantri dan Relationship Manager UMKM secara rutin melakukan edukasi dan onboarding langsung ke sentra usaha, pasar, dan lokasi-lokasi perdagangan untuk memperkenalkan penggunaan QRIS dan aplikasi BRImo. Selain itu, program-program seperti BRI UMKM Go Digital turut digelar untuk memperkuat literasi finansial dan digital pelaku usaha mikro sehingga mampu meningkatkan efisiensi usaha serta akses pembiayaan,” jelasnya.

Asryani menyebut, pengguna aktif BRImo di Kabupaten Wajo hingga November 2025 tercatat 42.602 user. Sedangkan pengguna QRIS dari BRI tercatat sebanyak 7.052 user.

Teller melayani nasabah di BRI Cabang Sengkang saat diabadikan pada Jumat (28/11/2025). Foto: Sapriadi

Dia menambahkan, BRI Cabang Sengkang juga berkomitmen pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pelatihan service excellence, kompetensi digital, serta pemahaman produk secara menyeluruh untuk menghadirkan pelayanan terbaik.

Dalam menghadirkan layanan inklusif dan inklusi keuangan bagi penyandang disabilitas, Asryani menuturkan adanya aksesibilitas fisik seperti rampa kursi roda di area layanan yang merupakan fasilitas yang wajib tersedia. Di samping itu, staf Customer Service dan Teller dibekali pelatihan etika komunikasi khusus, termasuk pemahaman dasar bahasa isyarat sederhana dan metode layanan berbasis tulisan.

“Nasabah penyandang disabilitas juga mendapatkan prioritas layanan tanpa antre. Kami memastikan seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, dapat mengakses layanan perbankan dengan mudah, aman, dan nyaman. Kami ingin memastikan, tidak ada satu pun nasabah yang tertinggal dalam era digital saat ini,” ucapnya.

Sebagai upaya berkelanjutan dalam memberikan layanan prima dan layanan inklusif, Asryani menegaskan, pihaknya akan terus meningkatkan kualitas pelayanan serta memperluas akses layanan hingga ke desa-desa. Salah satunya dengan persebaran agen BRILink.

“Kami akan terus memperluas akses layanan dan meningkatkan kualitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Kami di BRI juga memperkuat sistem pengaduan terpadu agar setiap keluhan dapat ditangani lebih cepat, transparan, dan solutif sebagai bagian dari komitmen menjaga kepercayaan nasabah,” pungkas Asryani.

(Sapriadi)

- GNFI Network -