Uwe Dadang Berpulang, Jejak Persahabatan dan Silaturahmi Tinggal Kenangan

WA Channel

PASANGKAYU, SULBARKINI.COM – Kabar duka menyelimuti kalangan jurnalis di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Wiardam Mustafa, wartawan senior yang akrab disapa Uwe Dadang, berpulang untuk selama-lamanya, Minggu (6/9/2026).

Almarhum ditemukan meninggal dunia di tempat kontrakan/kos yang ditempatinya di Jalan Diponegoro, Dusun Kampung Tengah, Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu.

Beberapa hari terakhir, kondisi kesehatan almarhum diketahui menurun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan-rekan seprofesi dan orang-orang yang selama ini mengenalnya.

Di kalangan jurnalis Pasangkayu, Uwe Dadang dikenal sebagai sosok senior yang mudah bergaul, sederhana, dan gemar menjalin silaturahmi dengan berbagai kalangan.

Bagi sejumlah wartawan, Uwe Dadang bukan sekadar rekan dalam menjalani profesi. Usianya yang lebih senior membuat almarhum kerap dipandang sebagai sosok orang tua, tempat berbagi cerita, pengalaman, hingga berbagai kisah tentang perjalanan hidup.

Kehadirannya selama ini lekat dengan pertemuan-pertemuan sederhana. Warung kopi menjadi salah satu tempat yang kerap mempertemukannya dengan sesama jurnalis.

Di sana, banyak hal diperbincangkan. Mulai dari pekerjaan, perkembangan daerah, cerita kehidupan, hingga candaan ringan yang membuat suasana menjadi hangat.

Tidak selalu harus ada urusan pekerjaan untuk membuat Uwe Dadang datang dan menyapa. Baginya, silaturahmi seolah menjadi bagian dari keseharian.

Ia dikenal mudah akrab dengan berbagai kalangan. Bukan hanya dengan sesama wartawan, tetapi juga dengan orang-orang yang dikenalnya selama menjalani kehidupan di Pasangkayu.

Kebiasaan itulah yang membuat lingkar pertemanan almarhum begitu luas. Banyak orang pernah berbincang dengannya, pernah menerima sapaan, atau sekadar duduk bersama dalam sebuah pertemuan sederhana.

Kini, pertemuan-pertemuan itu tinggal kenangan. Dalam beberapa hari terakhir, kondisi kesehatan almarhum memang diketahui menurun. Selain faktor usia, almarhum juga memiliki riwayat penyakit.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menghentikan aktivitasnya. Ia masih berusaha menjalani keseharian dan bertemu dengan teman-teman yang selama ini dekat dengannya.

Andi, salah seorang kerabat almarhum, mengatakan Uwe Dadang memiliki tempat khusus di kalangan jurnalis Pasangkayu. Hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun membuat almarhum tidak lagi dipandang sebatas seorang senior dalam pekerjaan.

“Bagi kami teman-teman jurnalis, beliau sudah kami anggap seperti orang tua sendiri. Beliau orangnya mudah akrab, senang bersilaturahmi, dan selalu berusaha menjaga hubungan dengan banyak orang. Karena itu, kepergian beliau bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi kami yang selama ini dekat dengan beliau,” kata Andi.

Kenangan tentang Uwe Dadang kini justru tersimpan dalam hal-hal yang sederhana.

Obrolan di warung kopi, pertemuan di tengah kesibukan, sapaan ketika berpapasan, hingga kunjungan silaturahmi yang dahulu mungkin terasa biasa saja.

Namun, setelah kepergiannya, hal-hal sederhana itu menjadi sesuatu yang begitu berarti.

Sebab, seseorang terkadang tidak dikenang karena seberapa besar namanya, tetapi karena seberapa banyak kebaikan dan kehangatan yang ia tinggalkan di hati orang-orang yang pernah ditemuinya.

Bagi rekan-rekan seprofesinya, perjalanan sebagai jurnalis akan terus berlangsung. Berita tetap harus ditulis, peristiwa akan terus dicatat, dan warung kopi mungkin kembali dipenuhi percakapan para jurnalis.

Namun, ada satu sosok yang tidak lagi berada di antara mereka.

Satu kursi yang dahulu menjadi tempat Uwe Dadang duduk dan berbincang kini kosong. Tidak ada lagi suara yang menyapa, cerita yang dibagikan, atau ajakan untuk sekadar duduk bersama.

Yang tersisa adalah kenangan. Dan yang lebih panjang dari kenangan itu adalah jejak silaturahmi yang selama hidupnya ia bangun.

Uwe Dadang telah pergi, tetapi keramahan, persahabatan, dan hubungan baik yang pernah ia tanam tidak serta-merta ikut pergi.

Ia meninggalkan cerita pada orang-orang yang pernah mengenalnya, meninggalkan kenangan pada mereka yang pernah duduk bersamanya, serta meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus hidup dalam ingatan.

Almarhum Wiardam Mustafa atau Uwe Dadang kemudian dimakamkan di pemakaman Islam di Jalan Moh. Hatta, Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu.

Selamat jalan, Uwe Dadang.

Di antara hiruk-pikuk berita yang terus berjalan, namamu mungkin tak lagi hadir dalam lembaran yang kami tulis. Namun, cerita tentang persahabatan, kesederhanaan, dan silaturahmi yang engkau tinggalkan akan tetap menjadi bagian dari kenangan kami.

Sebab pada akhirnya, yang paling lama tinggal setelah seseorang pergi bukanlah suara dan langkahnya, melainkan kebaikan yang pernah ia tinggalkan di hati banyak orang. (Red)

- GNFI Network -