“Drama” Job Fit Eselon II Mamasa, Dewan Soroti Pansel

WA Channel

SULBARKINI.COM, MAMASA — Drama seputar job fit pejabat eselon II di Kabupaten Mamasa tampaknya belum berakhir. Alih-alih menenangkan suasana birokrasi, hasil job fit yang konon sudah rampung sejak Juni 2025 di Makassar itu justru memantik gelombang tanya dari berbagai kalangan.

Hasil yang semestinya cepat diserahkan, faktanya baru tiba di tangan Pemerintah Daerah (Pemda) Mamasa pada Senin 6 Oktober 2025 beberapa hari lalu.

Padahal, job fit itu dilaksanakan atas dasar niat mulia yakni menyegarkan roda pemerintahan di Bumi Kondosapata agar lebih gesit, bersih, dan profesional.

Dasarnya pun bukan main-main. Ada UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN, PP No. 11 Tahun 2017 jo. PP No. 17 Tahun 2020, Permenpan RB No. 15 Tahun 2019, hingga SE KASN Nomor B-56/KASN/1/2021 — lengkap, seperti menu paket undang-undang rasa reformasi birokrasi.

Indikator penilaiannya pun keren: SKP, audit kinerja, prestasi, kepemimpinan, kedisiplinan, dan tentu saja, integritas. Tapi sebagus apa pun aturan di atas kertas, semua kembali pada cara memegang pena saat menulis hasilnya.

Penjelasan Pihak Pansel

Senin, 6 Oktober 2025 lalu, salah satu anggota Panitia Seleksi (Pansel), Miten Lullulangi, angkat bicara kepada awak media di depan Kantor Bupati Mamasa Jl. Poros Mamasa – Polewali Desa Osango Kecamatan Mamasa.

Dia menyebut, hasil job fit itu siap dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.

“Hasil ini kami pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Pak Bupati sendiri belum tahu siapa ditempatkan di mana,” ujar Miten.

Dia tak menampik, memiliki hubungan keluarga dengan salah satu peserta job fit.

“Iya, saya yang punya keluarga. Tapi saya tidak pernah buka saat pelaksanaan. Baru setelah hasil dilakban dan kami makan malam perpisahan, saya sampaikan,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Mamasa Arwin Rahman mengatakan profesionalisme itu tidak bisa dipertanggungjawabkan ke langit saja.

Beberapa hari pasca penyerahan hasil job fit, Arwin angkat bicara, Minggu, 12 Oktober 2025 malam. Ia menilai ada kejanggalan dalam rentan waktu antara pelaksanaan dan penyerahan hasil job fit.

“Rentan waktunya terlalu jauh. Kita bicara evaluasi kinerja, bukan proyek tambang emas yang butuh survei geologi berbulan-bulan,” ujarnya.

Politisi Nasdem itu juga mempertanyakan profesionalisme tim Pansel yang disebut-sebut masih memiliki hubungan emosional dan kekerabatan di Kabupaten Mamasa.

“Boleh saja bilang hasilnya dipertanggungjawabkan ke Tuhan, tapi syaratnya satu, semua anggota Pansel harus benar-benar steril dari hubungan keluarga. Kalau tidak, ya bagaimana mau objektif?” katanya.

Selain itu, Arwin juga menyoroti kurangnya transparansi nilai hasil job fit.

“Masyarakat dan peserta berhak tahu berapa nilainya dari setiap indikator. Kalau semua disimpan rapat seperti resep rahasia keluarga, kepercayaan publik justru bisa tergerus,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, awak media telah mencoba mengonfirmasi kembali ke salah satu Pansel, Miten Lullulangi, melalui pesan WhatsApp namun belum direspons.

Pesan sudah centang dua atau tanda pesan sudah diterima tapi belum ada balasan.

- GNFI Network -