SULBARKINI.COM, MAMASA – Intensitas hujan deras yang tak henti mengguyur Kabupaten Mamasa selama tiga hari berturut-turut sejak 24 Oktober 2025 telah memicu bencana longsor masif yang melumpuhkan mobilitas dan merusak infrastruktur vital.
Sedikitnya 30 titik longsor dilaporkan mengepung wilayah tersebut, memutus akses jalan utama dan menimbulkan kerugian signifikan pada fasilitas pendidikan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mamasa, Oktavianus Masuang, menegaskan pihaknya telah bergerak cepat. Dua unit alat berat telah dikerahkan ke lokasi terdampak untuk membuka sumbatan material longsor.
“Sejak kemarin, tim PUPR terus berjibaku di lapangan untuk memulihkan kembali jalur yang tertutup. Target utama kami adalah memastikan mobilitas masyarakat dapat kembali normal,” ujar Oktavianus, pada Rabu 29 Oktober 2025.
Dampak terparah terpantau di Kecamatan Pana’, di mana ruas jalan vital lumpuh total di Desa Saloan, Desa Ulusalu, Desa Salutambun, dan Desa Weri. Bahkan, jalur Tabang–Pana’ yang baru saja melalui proses pemeliharaan sejak April lalu, kembali diterjang longsor di banyak titik.
Selain Pana’, sejumlah ruas jalan lainnya yang terisolasi total meliputi, ruas jalan Desa Tampakkurak-Desa Periangan-Tabulahan, jalan Desa Kariango mengalami longsor pada badan jalan, jalan Orobua–Parak, Desa Salukona, jalan Desa Pangandaran-Burana-Lakahang, ruas strategis Jalan Nasional Mamasa–Toraja, serta jalur Malabo–Mamasa dan Salubatu–Mambi.
“Berdasarkan laporan di lapangan, ada sekitar tiga puluh titik longsor yang kini memutus akses di berbagai penjuru Mamasa. Ini adalah hambatan serius bagi pergerakan masyarakat,” jelas Oktavianus, menggambarkan situasi darurat yang terjadi.
Selain memutus akses, bencana longsor kali ini juga berdampak serius pada dunia pendidikan. Sejumlah sekolah mengalami kerusakan struktural akibat tertimpa material tanah dan pohon tumbang.
Sekolah yang terdampak termasuk, SMP Negeri 2 Tabang, SMP Negeri 5 Buntu Malangka, SDN 010 Tinua Tondon Talodo, dan SDN 011 Tanete, Desa Sapan.
Menyikapi krisis ini, Oktavianus memastikan koordinasi intensif terus dilakukan bersama pemerintah kecamatan dan aparat desa. Prioritas utama adalah percepatan penanganan darurat.
“Kami berupaya keras agar akses jalan utama segera dapat diakses. Ini krusial agar aktivitas vital masyarakat, termasuk distribusi logistik dan pelayanan publik, dapat dipulihkan secepatnya,” tutupnya








