SULBARKINI.COM, MAMASA – Desa Salubulo, yang bersemayam asri di Kecamatan Bambang, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, ibarat permata hijau yang menyimpan dilema. Di satu sisi, ia adalah lumbung agraria yang produktif, menopang hajat hidup 154 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 500 jiwa. Namun, di sisi lain, denyut perekonomiannya tercekik oleh jurang keterisolasian infrastruktur.
Desa dengan lima dusun—Kanan, Tondak Tua, Salupanampo, Tanete Pepanga, dan Kondo—ini telah lama masyhur sebagai sentra penghasil komoditas primadona seperti kakao dan kopi berkualitas.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa, Rynto, geliat ekonomi warga, yang mayoritas adalah petani, terbilang progresif. Buktinya, desa terpencil ini mampu mencatatkan hasil panen kakao yang impresif, mencapai estimasi 50 ton per siklus panen.

Paradoks Kemakmuran dan Derita Akses
Kemakmuran hasil bumi yang melimpah ini harus dibayar mahal oleh getirnya realitas aksesibilitas. Hingga kini, Desa Salubulo belum tersentuh jalur yang dapat diakses oleh kendaraan roda empat.
Pemandangan pedesaan yang menawan, dengan jalan setapak beton selebar kurang lebih 1 meter yang diapit rimbunnya pepohonan kakao dan kopi, menjadi gambaran visual dari paradoks ini.
Keterbatasan ini menciptakan kesulitan logistik yang meresahkan. Kepala Desa Rynto menuturkan, harapan tunggal masyarakat adalah pemenuhan infrastruktur jalan.
“Inilah yang membuat warga kesulitan. Sebagai contoh, untuk mendatangkan pupuk, kami harus melakukan pelangsiran (pengangkutan estafet) secara manual menggunakan sepeda motor. Kondisi ini tentu sangat menghambat efisiensi dan meningkatkan biaya produksi,” ujar Rynto, Rabu 12 November 2025.
Geliat Swasembada Pangan dan Dukungan Pemerintah
Di tengah tantangan tersebut, Pemerintah Desa Salubulo tidak berdiam diri. Mereka tengah mengintensifkan program swasembada pangan dengan fokus pada pengembangan komoditas Pepaya California.
Program ini mendapat dukungan moril yang signifikan, ditandai dengan kehadiran Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, yang baru-baru ini menyaksikan langsung penanaman 2.000 pohon Pepaya California oleh warga.
Inisiatif ini menegaskan upaya Desa Salubulo untuk mendiversifikasi sumber pendapatan dan memperkuat ketahanan pangan lokal. Namun, keberlanjutan dan optimalisasi hasil bumi ini sangat bergantung pada terwujudnya jalan yang layak.
Desa Salubulo berdiri sebagai representasi dari desa-desa tangguh di pelosok negeri, yang meskipun kaya akan potensi alam dan semangat warganya, masih menanti uluran tangan pemerintah dalam membuka isolasi geografis, demi kemudahan distribusi dan percepatan roda perekonomian. (Ancha).








