Oleh : Andi Ahmad Saransi
(Budayawan, Pegiat Literasi Sulselbar)
KETIKA saya berfantasi di Istana Mara’dia Balanipa pada tahun 1440, aroma kayu cendana bercampur dengan udara asin laut Mandar. Para anggota ada’ Kaiyang duduk melingkar, sementara Mara’dia Todilaling berdiri tegap di tengah. Suaranya mengalun, dalam dan penuh wibawa:
“Naiya lita’ akkatuoannai pa’banua”
(Adapun tanah kerajaan adalah sumber utama kehidupan rakyat banyak)
Sorot mata para anggota ada’ kaiyang menyala. Mereka paham, keputusan ini bukan sekadar hukum, tetapi pesan untuk anak cucu: tanah harus dikelola, bukan ditelantarkan.
Dua abad kemudian, tahun 1669, Mara’dia Balanipa Tomatindo Dilangganna melanjutkan amanah itu. Di hadapan sidang ada’ kaiyang , ia menambahkan pasal-pasal Ada’ Lita’ yang tegas:
“Madondong duam bongi annara’bai petawunna tisamba’ papparipinna, membali’ bomi di assalamna.”
(Besok atau lusa bila tanah garapannya terlantar, pematangnya runtuh, pagarnya rusak, maka tanah kembali ke asal semula)
Masyarakat pun hidup dengan aturan itu. Setiap jengkal tanah yang digarap menjadi sumber kehidupan. Bila tiga tahun tiga bulan tiga hari tanah itu tak terurus, haknya boleh berpindah tangan tetapi pohon kelapa, mangga, atau tanaman jangka panjang tetap menjadi milik penanamnya.
Lima abad berlalu. Ruang sidang Ada’ kaiyang berganti menjadi ruang konferensi berpendingin udara. Di hadapan jurnalis, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Nusron Wahid, menyampaikan kebijakan terbaru: tanah yang dibiarkan telantar dua tahun akan diambil alih negara, sesuai PP Nomor 20 Tahun 2021.
Suaranya berbeda, bahasanya modern, tetapi semangatnya sama seperti suara para Mara’dia di abad lampau: tanah adalah titipan negara untuk rakyat, dan penelantaran adalah pengingkaran terhadap amanah itu.
Seakan, di balik podium menteri, bayang-bayang Mara’dia Balanipa Todilaling dan Tomatindo Dilangganna tersenyum tipis. Warisan mereka tak pernah benar-benar hilang, hanya berganti bahasa, berganti zaman, namun tetap berakar di bumi yang sama.
“O diada’ O diwiasa”








