Jumat pagi (12/9/2025), beberapa orang berpakaian adat Bali berkumpul di sebuah tanah lapang tepat di area pantai Desa Karya Bersama, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar).
Tiga meja panjang dengan taplak berwarna putih disusun berjejer tepat di area tepi pantai dan dilengkapi beragam sesajen. Di sisi kanan meja panjang tersebut, sebuah bangunan tinggi dengan empat tiang dilapisi kain berwarna kuning.
Salah seorang peserta ritual, Nyoman Mustiana (62 tahun) mengatakan, prosesi tersebut merupakan rangkaian upacara Warak Keruron yang merupakan upacara bagi umat Hindu saat salah seorang anggota keluarganya mengalami keguguran.
“Nama upacaranya Warak Keruron untuk menyucikan bayi yang meninggal saat masih dalam proses darah atau istilahnya keguguran. Jadi termasuk Ngaben kecil,” kata Nyoman Mustiana.
Menurut dia, upacara Warak Keruron tersebut dilakukan dari pagi hari sampai menjelang siang. Nyoman menuturkan, janin atau jabang bayi yang masih dalam bentuk darah terlebih dulu dikuburkan, lalu beberapa hari berselang dilakukan upacara Warak Kelulon.
“Ada proses pembakaran, tapi dalam bentuk simbol. Selanjutnya dilarung ke laut supaya menyatu dengan air,” jelas Nyoman yang sudah bermukim di Kabupaten Pasangkayu sejak tahun 1978 itu.
Ketua Adat Bali Kelurahan Martajaya, Wayan Joni, menambahkan, ritual tersebut bermakna untuk melakukan pembersihan. Baik yang terlihat secara kasat mata maupun yang tidak terlihat atau gaib.
“Tujuannya membersihkan lingkungan, baik yang dilihat maupun yang tidak terlihat. Jadi akan kembali ke alam masing-masing,” ucap Wayan.
Mengutip Koran Bali Express, umat Hindu sangat meyakini, janin yang mengalami keguguran baik secara sengaja maupun tidak sengaja wajib dibuatkan upacara Warak Keruron. Sebab, jika tidak dilaksanakan, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap psikologis dari sang ibu.
Disebutkan, upacara Warak Keruron dilakukan untuk mengakhiri penderitaan yang dialami sang ibu. Menurut beberapa sastra suci Hindu, keguguran adalah peristiwa yang menyebabkan leteh atau cuntaka, sehingga harus dilakukan upacara untuk pembersihan atau penyucian.
Bahkan, ada ibu yang sampai setiap saat seperti melihat bayi setiap memejamkan matanya di malam hari, mendengar suara tangisan hingga seperti tubuhnya ada bayi yang bergelayut. Tentunya, peristiwa ini sangat mengganggu dalam kehidupan sehari harinya.
Bukan tanpa alasan, banyak ibu yang mengalami keguguran merasakan hal traumatis. Pasalnya, roh bayi yang mengalami keguguran akan terus terperangkap dalam tubuh prakertinya walaupun tubuhnya masih dalam bentuk gumpalan darah.
(Adi PW)








