SULBARKINI.COM, MAMASA – Di balik rimbunnya belantara di Rano, Desa Mehalaan Barat, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) sebuah keajaiban alam—yang di juluki sementara sebagai ‘Tirta Mahakarya Rano’, air terjun memancarkan pesona agung.
Eksotika tersembunyi ini disebut warga setempat Air Terjun Salu Barun – Barun. Keasriannya diabadikan dalam bingkai foto, kini menjadi harapan baru bagi denyut nadi ekonomi lokal.
Namun, untuk mencapai singgasana keindahan ini, para penjejak harus menempuh sebuah ritual petualangan. Akses menuju lokasi ini hanya jalan setapak.
Menurut Kepala Dusun Rano, Efraim, jarak dari pemukiman warga kurang lebih 500 meter. Penjejak harus melewati jalan yang menantang, berkelok di antara akar pepohonan yang asri dan bebatuan.
Perjalanan ini, meski menguji ketangguhan fisik, justru menegaskan kemurnian dan keperawanan alamnya—sebuah ‘gerbang perjuangan’ menuju surga tersembunyi.
Ibarat pepatah bahwa keindahan paripurna hanya bisa diraih dengan pengorbanan. “Tidak bisa dilalui kendaraan, masih asri sekali, bahkan hanya didatangi penduduk sekitar karena jalan ke sana masih jalan setapak,” ungkap Efraim, Senin 20 Oktober 2025.
Potret ini bukan sekadar gambar, melainkan sebuah visualisasi dari simfoni keagungan Ibu Pertiwi yang tak terlukiskan oleh diksi biasa.
Curahan air yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 100 meter nampak membelah dinding batu cadas yang perkasa, laksana sehelai kain sutra putih yang dijulurkan dari langit.
Gemuruhnya bak melodi purba yang menenangkan, sebuah bisikan alam yang mengajak setiap jiwa untuk sejenak melepaskan beban fana.
Di bawahnya, sebuah kolam alami menampung tetesan air suci, jernih membias kehijauan pepohonan yang memagarinya.
Lanskap di sekelilingnya adalah manifestasi sempurna dari kesuburan lumut hijau bagai karpet beludru membalut bebatuan.
Kolam penampungan tetesan air juga diapit ulur-sulur tumbuhan tropis menjuntai anggun, dan vegetasi yang rapat menciptakan atmosfer sejuk nan magis.
Setiap helaian daun, setiap batang pohon yang menjulang tinggi, adalah saksi bisu dari kemurnian ekosistem yang masih perawan, jauh dari sentuhan destruktif peradaban.
Wisatawan yang berkesempatan menjejakkan kaki di singgasana alam ini akan disuguhi pengalaman spiritual yang mendalam.
Melihat potensi keagungan yang luar biasa ini, Kadus Efraim menyuarakan aspirasinya ke Pemerintah Daerah. Harapan disampaikan Efraim agar ‘Tirta Mahakarya Rano’ itu diangkat statusnya, menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kecamatan Mehalaan.
Jika infrastruktur dibuka dengan sentuhan kearifan, niscaya kemegahan alam ini akan menarik pelancong dari seluruh penjuru, menjadikan Mehalaan sebagai kiblat baru wisata alam. (Ancha)








