Mamasa, SULBARKINI.COM – Sudah enam hari ratusan warga di Desa Pangandaran, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, terisolir akibat longsor dan banjir bandang yang menutup akses jalan utama menuju kampung mereka. Warga kini terpaksa bertaruh nyawa melewati tebing curam dan arus sungai yang deras untuk bisa keluar dari desa.
Dalam rekaman video amatir yang beredar, terlihat puluhan pengendara nekat menyeberangi sungai. Bahkan, satu unit sepeda motor milik warga ikut terseret derasnya aliran sungai saat berusaha melintas.
Selain itu, warga juga harus melewati tebing curam yang tertutup material longsor untuk mengangkut kebutuhan pokok. Dengan saling bantu, mereka menuntun kendaraan di jalur ekstrem tersebut demi bisa keluar dan masuk desa.
“Beginilah kondisi kesulitan yang kami alami setelah diguyur hujan sekitar 10 jam. Jalan kami di Desa Pangandaran sudah enam hari tertutup longsor dan banjir. Motor diangkat, ditarik bahkan ada yang terbawa arus sungai,” ujar Salem, salah satu warga setempat, Senin (3/11/2025).

Menurutnya, warga bersama pemerintah desa telah berupaya melakukan gotong royong membuka akses jalan. Namun, tebalnya material longsoran membuat pembersihan secara manual mustahil dilakukan. Warga pun berharap adanya bantuan alat berat dari pemerintah daerah maupun pusat untuk menyingkirkan timbunan tanah dan batu.
“Kami sudah berusaha gotong royong, tapi sangat sulit. Kami sangat berharap bantuan pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat agar jalan kami segera dibuka kembali,” tambah Salem.
Hingga kini, ratusan masih terisolir dan kesulitan memperoleh bahan kebutuhan pokok. Kondisi semakin memprihatinkan karena hujan deras masih terus mengguyur wilayah Mamasa, meningkatkan risiko longsor dan banjir susulan.
Warga khawatir jika penanganan lambat, akses mereka akan semakin sulit dan aktivitas ekonomi di desa benar-benar lumpuh.








