Hutan, Nafas Kehidupan Leluhur Masyarakat Adat Mamasa

Foto : Istimewa
WA Channel

SulbarKini.com – Di pegunungan Mamasa, Sulawesi Barat hutan bukan sekadar bentangan pepohonan yang tumbuh di lereng-lereng gunung. Bagi masyarakat adat, hutan adalah sumber kehidupan yang menyatu dengan tradisi, budaya, dan keberlangsungan hidup sejak zaman leluhur. Dari hutan, mata air mengalir, tanah terlindungi dari longsor, dan sekaligus ruang sakral yang diwariskan leluhur sejak ratusan tahun silam.

Dari hutan, mata air mengalir menghidupi sawah dan kebun warga. Dari akar-akar pohon yang menancap kuat di perut bumi, tanah pegunungan tetap terjaga dari ancaman longsor. Hutan juga menjadi ruang sakral yang diwariskan leluhur dan dijaga melalui aturan adat yang hidup turun-temurun di tengah masyarakat Mamasa.

Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan bencana yang semakin sering melanda wilayah pegunungan Sulawesi Barat, tokoh adat Mamasa, David Demmanasa, kembali mengingatkan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam sebagaimana diajarkan para leluhur sejak dahulu.

“Kalau dikatakan hutan adalah bagian dari kehidupan masyarakat Mamasa sejak leluhur dulu sampai sekarang, itu memang benar adanya,” ujar David.

Menurutnya, sejak zaman nenek moyang, masyarakat adat Mamasa telah memiliki cara tersendiri dalam menjaga kelestarian hutan. Jauh sebelum istilah konservasi lingkungan dikenal secara modern, masyarakat adat telah memahami  kerusakan hutan akan membawa dampak besar bagi kehidupan manusia.

Karena itu, leluhur Mamasa menetapkan kawasan-kawasan tertentu sebagai hutan yang dilindungi adat. Dalam tradisi masyarakat Mamasa, kawasan itu dikenal dengan istilah Pangala Ombok dan Pangala’ Diayan.

Kawasan tersebut tidak boleh dirusak karena dianggap memiliki fungsi penting bagi kehidupan bersama. Ada hutan yang dijaga sebagai sumber mata air, ada yang dipercaya menjadi pelindung alami dari longsor, dan ada pula yang dipertahankan karena menjadi habitat flora dan fauna yang harus dijaga keberadaannya.

Di kawasan-kawasan itu, adat menjadi benteng utama perlindungan hutan. Tidak ada masyarakat yang berani masuk sembarangan, apalagi mengambil hasil hutan tanpa izin adat. Pelanggaran terhadap aturan itu dianggap sebagai kesalahan besar yang dapat merusak keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat.

“Kalau ada orang yang masuk sembarangan apalagi mengambil hasil hutan di kawasan itu, itu dianggap pelanggaran berat,” kata David.

Bagi leluhur masyarakat Mamasa, hutan bukan hanya soal alam, tetapi juga menyangkut nilai, penghormatan, dan tanggung jawab antargenerasi. Karena itu, mengelola hutan pun ada aturan yang harus dipatuhi.

“Orang tua dahulu tidak menebang pohon sesuka hati. Ada wilayah tertentu untuk mengambil kayu, damar, maupun hasil hutan lainnya. Setiap komunitas adat memiliki kawasan hutannya masing-masing yang diwariskan turun-temurun,” tutur David.

Pembagian wilayah itu membuat masyarakat memahami batas dan tanggung jawab mereka terhadap alam. Tidak ada eksploitasi berlebihan karena masyarakat hanya mengambil apa yang benar-benar dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.

“Orang tua dulu tidak semena-mena menebang kayu. Ada aturan-aturannya,” katanya.

Bahkan ketika seseorang hendak mengambil kayu untuk membangun rumah, terdapat ritual adat yang wajib dilakukan. Ritual tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada alam sekaligus pengingat bahwa manusia tidak boleh serakah terhadap hutan.

Kayu yang ditebang pun dipilih secara selektif. Leluhur Mamasa mengajarkan agar pohon hanya ditebang jika benar-benar diperlukan dan memiliki manfaat yang jelas. Pohon yang tidak digunakan tidak boleh ditebang begitu saja.

“Kayu yang diambil hanya sesuai kebutuhan. Kalau tidak dimanfaatkan, tidak boleh ditebang,” ujarnya.

Nilai-nilai adat seperti itu kini terasa semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman banjir dan longsor di wilayah pegunungan. Ketika banyak kawasan hutan mulai terbuka dan keseimbangan alam perlahan terganggu, masyarakat adat Mamasa justru telah lama memiliki cara hidup yang menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Hutan bukan hanya warisan leluhur yang harus dikenang dalam cerita. Hutan adalah penyangga kehidupan yang menjaga manusia sejak dahulu hingga hari ini. Dan selama hutan tetap dijaga, kehidupan masyarakat adat Mamasa akan terus bernapas di tengah pegunungan yang mereka cintai. (Frendy)

- GNFI Network -