SULBARKINI.COM, Mamasa – Di balik keindahan alam perbukitan Mamasa, terselip kisah pilu perjuangan kemanusiaan. Di Desa Indo Banua, Kecamatan Mambi, sepasang suami istri lanjut usia terpaksa ditandu sejauh delapan kilometer oleh warga demi mendapatkan pertolongan medis.
Yunus (67) dan istrinya, Janaria (57), sama-sama terbaring lemah karena sakit. Namun, buruknya akses jalan membuat tak satu pun kendaraan bisa melintas. Satu-satunya pilihan hanyalah menempuh perjalanan panjang dengan cara tradisional, ditandu menggunakan batang bambu dan kain sarung.
Belasan warga bergantian memanggul tandu sederhana itu. Jalan yang mereka lalui bukanlah jalan mulus, melainkan jalur berbatu, menanjak dan menurun tajam, bahkan melewati lembah dan perbukitan.
“Keduanya ditandu karena kondisinya sama-sama sakit, perjalanan itu sekitar 8 kilometer dari Desa Indobanua ke jalan yang sudah dilalui kendaraan,” ungkap Ahmad Faisal, salah satu warga yang mendampingi kedua lansia tersebut, Rabu (5/11/2025).
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya mereka tiba di Puskesmas terdekat. Namun karena kondisi keduanya cukup parah, mereka kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Polewali Mandar untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Bagi warga Indo Banua dan Pamoseang, pemandangan seperti ini bukanlah hal baru. Setiap kali ada warga yang sakit parah, tandu bambu menjadi “ambulans darurat” mereka.
Jalan yang rusak parah, berlumpur, berbatu tak bisa dilalui kendaraan membuat akses kesehatan menjadi perjuangan yang penuh risiko.
“Kami berharap pemerintah memperhatikan kondisi jalan di desa kami, agar warga tak terus-terus dalam kondisi menderita akibat akses jalan,” lanjut Faisal.
Di pedalaman Mamasa, gotong-royong masih menjadi napas kehidupan. Namun di balik keteguhan itu, tersimpan harapan besar agar derita di atas tandu bambu tak lagi menjadi cerita yang berulang dari pelosok negeri. (FR)








