SulbarKini.com, Mamasa, – Di antara hamparan hijau yang menjanjikan kemakmuran, terentang sebuah kisah getir yang mengoyak nurani. Jalan Poros Desa Ralleanak Utara menuju Desa Baruru, kini hanyalah sebuah ironi infrastruktur yang kian hari kian meranggas.
Akses vital yang semestinya menjadi urat nadi pergerakan ekonomi, kini menjelma palung penderitaan yang tak bertepi.
Masyarakat di desa ini tumpukan harapan kepada Pemerintah daerah, baik di level Kabupaten Mamasa maupun Provinsi Sulawesi Barat, agar melirik kondisi jalan di pelosok Kabupaten Mamasa itu.
Desa Baruru, sebuah permata terpencil di Kecamatan Aralle, yang bersinggungan langsung dengan gerbang Kabupaten Mamuju, Desa Kopeang, Kecamatan Tappalang, memiliki peran historis yang tak terbantahkan.
Sejak dahulu kala, ruas ini telah menjadi koridor krusial penghubung dua kabupaten, sebuah jalur yang seharusnya telah menerima karpet merah aspal dan beton, bukan sekadar janji yang menguap bersama debu.
Baruru, dengan segala keterpencilannya, bukanlah wilayah yang miskin. Ia adalah lumbung yang menyimpan kekayaan agraria melimpah seperti padi yang menguning, nilam yang wangi, kakao yang menghitam, serta aneka hasil bumi yang siap menopang roda perekonomian.
Namun, potensi ini terperangkap dalam lumpur dan bebatuan, terbungkam oleh kondisi jalan yang stagnan dan menyedihkan.
Salah satu pemuda Kecamatan Aralle, sekaligus aktivis, Riskul Tona, secara tegas mengatakan bahwa saatnya masyarakat yang menggenggam erat harapan, melayangkan tuntutan tegas kepada tampuk kekuasaan yakni Pemerintah Kabupaten Mamasa dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.
Riskul Tona meminta agar pemerintah menghadirkan atensi dan alokasi khusus bagi pembenahan total Jalan Poros Ralleanak Utara ke Desa Baruru itu.
Menurutnya, selama ini ruang publik masyarakat hanya dipenuhi gemericik janji-janji fatamorgana dari para politisi, sebuah melodi manis yang hanya diperdengarkan menjelang kontestasi elektoral—Pileg dan Pilkada.
“Setelah pesta usai, kami kembali ditinggalkan dalam sepi infrastruktur yang terlantar,” tutur Aktivis muda Kabupaten Mamasa itu.
Riskul mengutarakan, menjelang genap 80 tahun usia Kemerdekaan Republik Indonesia dan menyambut ulang tahun Kabupaten Mamasa yang ke-23, warga Ralleanak Utara dan Baruru, masih terpaksa memikul beban penderitaan di sektor infrastruktur.
Sebuah kontras yang menusuk, lanjut Riskul, tatkala desa-desa tetangga telah merasakan sentuhan modernisasi, menikmati kemulusan aspal dan kokohnya beton, namun justru Jalan Poros Baruru seakan terhenti oleh waktu, luput dari uluran tangan sentuhan pembangunan, baik dari eksekutif kabupaten maupun provinsi.
“Kami mendesak Pemerintah Daerah Mamasa untuk segera memasukkan dan menganggarkan secara definitif proyek pembangunan Jalan Poros Ralleanak Utara ke Desa Baruru,” pinta Riskul.
Hingga berita ini terbit, belum ada pernyataan dari pihak terkait (Pemerintah Daerah Kabupaten Mamasa) mengenai kondisi jalan di Ralleak Utara – Baruru tersebut.(Anc/Riskul)








