Polewali, SULBARKINI.COM – Kontroversi mewarnai gelaran Polman Cup VI 2026 yang digelar di Stadion HS Mengga, Kabupaten Polewali Mandar (Polman).
Kubu Persatuan Sepak Bola Indonesia Parepare (Persipare) melontarkan protes keras terhadap kepemimpinan wasit yang dinilai tidak netral dan mencederai semangat fair play pada laga 8 besar antara Persipare menghadapi PS Taeso Putra, Mamuju.
Dalam laga tersebut, Persipare harus tersingkir dan gagal melaju ke semifinal setelah kalah melalui drama adu penalti setelah bermain imbang dengan skor 1-1 di waktu normal.
Kekecewaan kubu Persipare mencuat melalui unggahan di media sosial yang langsung menjadi perbincangan publik pecinta sepak bola lokal.
Dalam unggahan pemilik akun Mel-q Boy Parassa, dia meminta panitia turnamen Polman Cup 2026 segera melakukan evaluasi total terhadap perangkat pertandingan, khususnya wasit yang dianggap memiliki konflik kepentingan.
“Untuk panitia turnamen Polman Cup, evaluasi wasit yang memimpin pertandingan. Jangan pakai wasit yang ada anaknya bermain di tim calon lawan,” tulis Mel-q Boy Parassa, Kamis (7/5/).
Dia menyatakan, dalam sepak bola kalah dan menang merupakan bagian dari permainan. Namun, Mel-q menilai jalannya laga menjadi tidak sehat ketika sejumlah keputusan di lapangan dianggap berat sebelah dan memunculkan dugaan ketidaknetralan perangkat pertandingan.
“Kalah menang itu hal biasa dalam sepak bola, tapi jangan sampai pertandingan dipermainkan oleh keputusan wasit,” lanjut dia.
Kubu Persipare meminta panitia tidak menutup mata terhadap polemik yang berkembang. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem penunjukan pengadil lapangan dianggap penting demi menjaga integritas kompetisi serta mencegah kegaduhan serupa terulang pada pertandingan berikutnya.
Menanggapi polemik yang berkembang, Ketua Panitia Polman Cup VI 2026 Enzo Tenggara melalui unggahan di media sosial, menyebut penugasan wasit telah sesuai prosedur dan tidak menyalahi aturan.
Enzo menyatakan, salah satu keputusan yang memicu sorotan berkaitan dengan penerapan Laws of the Game FIFA Pasal 12 tentang pelanggaran dan tindakan tidak sportif. Dalam regulasi tersebut, tindakan tidak menyenangkan, protes berlebihan, maupun perilaku tidak sopan terhadap perangkat pertandingan dapat berujung kartu kuning.
Menurut Enzo, banyak penonton di luar lapangan hanya menyaksikan momen keluarnya kartu kuning kedua tanpa mengetahui secara detail kejadian dan komunikasi yang terjadi di dalam pertandingan.
Meski demikian, polemik ini tetap dinilai menjadi bahan evaluasi serius bagi penyelenggara. Kontroversi yang terus bergulir dikhawatirkan dapat mencederai reputasi Polman Cup VI 2026 apabila tidak disikapi secara terbuka, profesional, dan berimbang.
Perdebatan terkait keputusan wasit masih ramai dibahas di media sosial dan menjadi perhatian publik pecinta sepak bola di Sulawesi Barat.
(Egi Sugianto)








