Mamasa, SULBARKINI.COM — Kabut tipis pagi itu masih menyelimuti lereng-lereng hijau di atas Kota Mamasa. Dari kejauhan, samar-samar tampak deretan rumah tradisional berdiri di antara hamparan bambu yang menjulang tinggi. Itulah Desa Buntubuda, sebuah kampung tua di Kecamatan Mamasa, Sulawesi Barat, tempat di mana keindahan alam dan kearifan lokal berpadu dalam harmoni yang menenangkan.
Dari titik tertinggi kampung ini, panorama Kota Mamasa terlihat begitu menakjubkan. Rumah-rumah penduduk, sawah yang terbentang hijau, dan barisan bukit yang memeluk lembah menjadi pemandangan alami yang memanjakan mata siapa pun yang datang. Tak heran, Buntubuda sering dijuluki “Kampung Bambu”, karena hampir seluruh kawasan ini ditumbuhi oleh ribuan bahkan jutaan batang bambu yang tumbuh subur di setiap penjuru.
Jika dilihat dari kejauhan, seolah tak ada tumbuhan lain selain bambu. Hanya beberapa atap rumah dan menara gereja yang tampak menembus rimbunnya pepohonan hijau itu. Namun, ketika menjejakkan kaki di kampung tersebut, pandangan langsung disambut oleh puluhan bahkan ratusan rumah warga yang tersembunyi di balik rimbunnya rumpun bambu. Sebagian di antaranya adalah rumah adat Mamasa, dengan atap melengkung khas Banua Mamasa yang menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat.

“Bambu-bambu di kampung ini ada yang umurnya sudah ratusan tahun. Itu ditanam orang tua dulu, jadi ini adalah salah satu keunikan dari Kampung Buntubuda,” tutur salah seorang warga sambil menunjuk rumpun bambu besar yang batangnya sudah berlumut.
Keberadaan bambu di kampung ini bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat Buntubuda, bambu adalah simbol kehidupan dan pelindung. Selain digunakan untuk bahan bangunan dan kerajinan, bambu juga berfungsi menahan erosi tanah dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Hamparan persawahan di kanan dan kiri kampung menambah keelokan panorama. Saat musim tanam, warna hijau muda menghiasi setiap petak sawah. Namun ketika padi mulai menguning, lanskap kampung berubah menjadi lautan emas yang berkilau diterpa sinar matahari sore.

Meski berada di atas perbukitan, akses menuju Kampung Buntubuda terbilang mudah. Dari pusat Kota Mamasa, jaraknya hanya sekitar satu kilometer. Jalan menuju ke sana bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, meskipun beberapa titik menanjak dan berkelok. Namun, rasa lelah perjalanan itu langsung terbayar ketika tiba di puncak bukit di mana pemandangan megah Mamasa terbentang.
Bagi para pecinta fotografi, Buntubuda adalah panorama matahari terbit di balik kabut pagi, siluet bambu yang berdiri tegak, serta suasana kampung yang masih sangat alami menjadikannya lokasi ideal untuk menangkap keindahan alam Mamasa dari sudut yang berbeda.
Dari puncak Kampung Bambu, Kota Mamasa tampak kecil dan damai di bawah sana. Sementara di atasnya, bambu-bambu tua bergoyang lembut tertiup angin seakan berbisik, mengingatkan siapa saja yang datang bahwa di antara kerimbunan hijau ini, tersimpan kisah panjang tentang keteguhan, warisan, dan cinta pada alam. (FR)








