Pasangkayu, SULBARKINI.COM – Di antara perkebunan kelapa sawit dan permukiman warga di Desa Saptanajaya, Kecamatan Duripoku, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), berdiri sebuah pondok pesantren yang merupakan pesantren pertama di daerah ini.
Oleh sang pendiri, KH Zaini, pondok pesantren yang dirintis sejak tahun 1993 itu diberi nama Ponpes Nurul Jadid yang dibangun di atas lahan miliknya, dan diwakafkan untuk pusat pendidikan keagamaan serta mencetak santri dan calon pemimpin di masa-masa mendatang.
“Tahun 1993 mulai dirintis, di sini masih hutan dan saat itu Kabupaten Mamuju masih bagian Provinsi Sulawesi Selatan dan Pasangkayu masih berbentuk kecamatan. Awalnya, merupakan pendidikan nonformal dengan jumlah santri 10 orang,” ungkap KH Zaini, Rabu (17/9/2025).
Tahun 1998, ia memulai pendidikan formal dengan membuka Madrasah Tsanawiyah (MTs) atas permintaan masyarakat setempat yang sebagian besar merupakan warga transmigrasi dan pendatang dari berbagai daerah.
Salah satu yang mendorong KH Zaini merintis Ponpes Nurul Jadid, karena saat itu anak-anak setempat banyak yang tidak lanjut bersekolah karena lokasi Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjarak 5 kilometer dengan akses jalan yang belum memadai.
“Dulunya, anak-anak di sini terlantar (putus sekolah), jauh dari SMP yang jaraknya 5 kilometer. Selain itu, sering banjir sehingga mereka kerap tidak masuk sekolah,” ucap KH Zaini.

Ia mengisahkan, banyak tantangan di awal-awal merintis Ponpes Nurul Jadid Duripoku yang saat ini memberikan pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Diniyah dengan total 170 santri.
“Kalau awalnya, berdinding papan dan beratap daun sagu. Satu bangunan digunakan untuk tempat belajar, tempat salat, atau sebagai musala,” ujar KH Zaini.
Tak hanya itu, penerangan pun saat itu seadanya karena listrik PLN belum masuk. Ia hanya mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk penerangan di malam hari. Saat pelaksanaan ujian MTs, KH Zaini turut mendampingi santrinya ke Mamuju dengan naik kapal laut karena saat itu akses darat Mamuju-Pasangkayu belum terbuka.
“Lokasinya tanah sendiri yang saya wakafkan untuk jadi pesantren. Awal dibuka gratis bagi santri selama 3 tahun,” imbuhnya.
Di usianya yang 32 tahun, Ponpes Nurul Jadid Duripoku kini memiliki ratusan santri dan telah mencetak alumni yang berkiprah di berbagai bidang. Mulai yang menjadi dokter, polisi, tentara, bidan, perawat, kepala desa dan perangkat desa, hingga Anggota DPRD Pasangkayu.
“Metode pendidikannya menggabungkan antara pendidikan salafiyah dan khalafiyah. Jadi tidak hanya pendidikan agama, santri juga dibekali pendidikan umum dan modern serta pemanfaatan teknologi,” ucap KH Zaini.
Terkait pemilihan nama Nurul Jadid, KH Zaini menuturkan bermakna sebagai cahaya di tempat yang baru. Selain itu, ia ingin mengabadikan nama istrinya Nurul Hidayah pada nama pesantren yang didirikannya itu.
“Ini bukti cinta saya ke istri yang bersama-sama merintis pondok pesantren Nurul Jadid dan menemani saya hingga kini,” pungkas KH Zaini. (*)









