Suplai Sapi ke Kalimantan, Ternak Dikarantina 14 Hari Sebelum Menyeberang, Imbas Pencegahan PMK

Sapi berada di atas kapal feri/Awal Dion
WA Channel

Sulbar Kini, Mamuju – Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Mamuju melakukan pengawasan dan karantina terhadap ternak sapi selama 14 hari sebelum diberangkatkan ke Kalimantan.

Upaya itu dilakukan guna memastikan ternak tersebut aman dari Penyakit Kuku dan Mulut (PMK). Ternak tersebut dikarantina di kandang khusus milik Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Mamuju, di Desa Botteng, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju.

“Untuk saat ini kita melakukan pengawasan karantina sapi selama 14 hari di kandang dan melakukan pemeriksaan,” kata dokter hewan Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Mamuju, drh. Murdiana, Sabtu 21 Mei 2022.

Jika dalam masa karantina itu tidak ditemukan adanya gejala penyakit, maka sapi-sapi tersebut bisa diberangkatkan ke Balikpapan, Kalimantan Timur melalui jalur penyeberangan pelabuhan feri Simboro, Mamuju.

“Tapi kalau ada yang ditemukan terjangkit penyakit untuk satu kawanan sapi, kita tidak berangkatkan,” tegasnya.

Hingga kini jumlah sapi yang dikaratina sebanyak 469 ekor. Ternak tersebut berasal dari Kabupaten Majene dan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Untuk hari ini ada 69 ekor yang menyeberang, selanjutnya ada 400 ekor lebih yang sementara dikarantina di kandang kami yang berada di Botteng,” ungkap Murdiana.

Ia berharap, para peternak atau warga tidak mendatangkan sapi, domba, dan kambing dari luar Pulau Sulawesi. Upaya itu dilakukan untuk meminimalisir penyebaran PMK dari wilayah lain di Indonesia.

“Saat ini Sulawesi masih bebas penyakit PMK, sedangkan beberapa daerah di Indonesia lainnya sudah tertular. Jangan sampai memasukkan hewan dari pulau-pulau yang positif yang terkontaminasi PKM,” imbuhnya.

Kebijakan masa karantina yang dinilai terlalu lama membuat pedagang sapi mengalami kerugian. Di antaranya Taqwa yang merugi hingga Rp 6 juta.

Menurutnya, semakin lama ternak dikaratina, maka semakin banyak pula biaya pakan yang harus dibayar. Itu disebabkan sapi yang dibawanya dalam jumlah banyak, 12 hingga 16 ekor sapi.

“Kita beli makanan sapi Rp 25 ribu per ikat. Sehari itu sampai Rp 300 ribu. Belum lagi biaya makan kita selama 14 hari. Kita yang tanggung semua,” keluh Taqwa. (Awal Dion)

- GNFI Network -